INTAN JAYA - Di tengah dinginnya udara pegunungan Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, tersimpan kehangatan luar biasa yang lahir dari kebersamaan prajurit TNI dan warga. Momen Paskah 2026 menjadi saksi bisu harmoni penuh makna saat Satgas Yonif 712/Wiratama (WT) menggelar ibadah bersama masyarakat di Gereja Klasis Hitadipa, Distrik Hitadipa, pada Minggu (5/4/2026).
Sejak pagi, suasana khidmat begitu terasa kental. Lantunan puji-pujian menggema dari dalam gereja sederhana, menyatukan suara para prajurit dengan jemaat yang didominasi mama-mama dan anak-anak. Tidak ada sekat, tidak ada jarak—yang ada hanyalah kebersamaan dalam satu iman dan rasa syukur yang mendalam.
Ibadah Paskah ini melampaui sekadar perayaan keagamaan. Di tengah segala keterbatasan, momen ini menjelma menjadi simbol kuat persaudaraan, kedamaian, dan harapan baru bagi masyarakat di pedalaman Papua.
Pendeta Jonathan Sani, pemimpin Gereja Klasis Hitadipa, tak kuasa menahan haru dan rasa syukurnya atas kehadiran Satgas di tengah jemaat.
“Kami merasakan kehadiran Tuhan melalui bapak-bapak Satgas Yonif 712/WT. Terima kasih karena telah membawa kedamaian nyata di momen Paskah ini. Kehadiran kalian membuat kami merasa tidak sendirian, ” ujarnya dengan suara bergetar.
Sementara itu, Perwira Pembinaan Mental Satgas, Lettu Caj Yoshua Pardede, menegaskan bahwa nilai Paskah menjadi penguat semangat dalam menjalankan tugas di wilayah penugasan.
“Kristus telah bangkit! Semoga kemenangan-Nya memberi kita kekuatan untuk bangkit dari setiap kesulitan. Paskah mengajarkan kita tentang pengorbanan, kasih, dan harapan. Kami berharap berkat ini membawa kedamaian bagi masyarakat Hitadipa, ” ungkapnya.
Kebersamaan yang terjalin dalam ibadah tersebut menjadi bukti nyata bahwa keamanan dan kedamaian tidak hanya dibangun melalui kekuatan, tetapi juga melalui kepercayaan dan kedekatan hati yang tulus.
Di bawah langit Papua Tengah yang membentang, Paskah di Hitadipa menjadi simbol bahwa persatuan dapat tumbuh subur dari kesederhanaan. Kehadiran TNI di sini bukan sekadar sebagai penjaga keamanan, melainkan sebagai sahabat sejati yang menghadirkan harapan dan kasih di tengah masyarakat.
Perayaan ini meninggalkan pesan mendalam: bahwa di ujung timur Indonesia, kedamaian sejati lahir dari kebersamaan, dan persaudaraan menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa. (PERS)
